Kumpulan Nasihat Dan Hikmah

Posted: July 2, 2013 in Nasihat
Tags: ,

Wa Kam amrin Tusaau bihi shabaahan, wata’tiikal musirratu fil ‘asyiyyi

Berapa banyak perbuatan ala (buruk) yang engkau lakukan di waktu pagi, namun pada sore hari kebahagian mendatangimu.

“Laa Tasyhabasy Syariira, Fainna Thab’aka yasruqu min Thab’ihi sirran. Wa anta laa ta’lamu”

Janganlah kau berteman dengan Seseorang Yang Buruk (akhlaknya), karena sesungguhnya kepribadianmu mencuri (terkontaminasi) kepribadianya secara perlahan. Sedangkan kau tidak mengetahui (hal itu).

“Engkau itu seperti burung yang sedang Lupa diri. Lupa akan kesempurnaan sayapnya yang mampu membawanya terbang menuju ufuk tertinggi. mungkin beginilah gambaran dirimu yang sedang lupa dengan kelebihan2mu. kau hanya terfokus dengan kekurangan2 yang membuatmu lupa akan kelebihanmu”

“Khairu Syababikum Man Tasyabbaha Bisyuyukhikum.”

Mereka, pemuda yang mampu berpikir dan bertingkah laku secara dewasa layaknya orang tua (yang dituakan) akan dianggap menjadi pemuda yang baik.

Berapa banyak kemudahan yang datang setelah adanya kesulitan?
Bukankah selalu ada kemudahan setelah kesulitan. Jika seperti itu, kenapa kita bersusah hati menghadapi kesulitan yang ada.

Semangat Kawan..
Jikalau anda sedang menghadapi masalah, percayalah kawan. Masalah akan selesai. bukankah selalu ada solusi dalam setiap permasalahan. Seperti halnya setiap penyakit, pasti ada obatnya. 
Semangat Kawan bukankah selalu ada kemudahan, setelah adanya Kesulitan. Bukankah selalu ada senyum manis merekah, setelah isak tangis yang memecah.
Semangat Kawan..
Percayalah, Allah itu maha pengasih. Mungkin, masalah itu menjadi Kunci kedewasaanmu.
Semangat Kawan

Advertisements

Fotografi

Posted: February 28, 2013 in fotografi
Tags:

Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu “photos” : Cahaya dan “Grafo” : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

Sejarah fotografi

Kronologi perkembangan fotografi dimulai dengan:

Foto Heliografi dengan subyek pemandangan yang pertama dibuat oleh Joseph Nicéphore Niépce pada tahun 1826.

Boulevard du Temple, foto Daguerreotype pertama yang dibuat oleh Daguerre pada sekitar tahun 1838-1839

Citra berwarna yang pertama, Maxwell, 1861

Foto berwarna yang pertama dibuat oleh Louis Ducos du Hauron pada tahun 1877.

High speed photography, Muybridge, 1878

Citra hasil pemindaian komputer digital, 1957

sumber: Wikipedia

Sejarah Cirebon

Posted: December 17, 2012 in Sejarah, Sejarah Cirebon

KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.

Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Carita Purwaka Caruban NagariBabad CirebonSajarah Kasultanan CirebonBabad Walangsungsang, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723.

Dalam naskah itu pula disebutkan bahwa asal mula kata “Cirebon” adalah “sarumban”, lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.

Menurut P.S. Sulendraningrat, penanggung jawab sejarah Cirebon, munculnya istilah tersebut dikaitkan dengan pembuatan terasi yang dilakukan oleh Pangeran Cakrabumi alias Cakrabuana. Kata “Cirebon” berdasarkan kiratabasa dalam Bahasa Sunda berasal dari “Ci” artinya “air” dan “rebon” yaitu “udang kecil” sebagai bahan pembuat terasi. Perkiraan ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa dari dahulu hingga sekarang, Cirebon merupakan penghasil udang dan terasi yang berkualitas baik.

Berbagai sumber menyebutkan tentang asal-usul Sunan Gunung Jati, pendiri Kesultanan Cirebon. Dalam sumber lokal yang tergolong historiografi, disebutkan kisah tentang Ki Gedeng Sedhang Kasih, sebagai kepala Nagari Surantaka, bawahan Kerajaan Galuh. Ki Gedeng Sedhang Kasih, adik Raja Galuh, Prabu Anggalarang, memiliki puteri bernama Nyai Ambet Kasih. Puterinya ini dinikahkan dengan Raden Pamanah Rasa, putra Prabu Anggalarang.

Karena Raden Pamanah Rasa memenangkan sayembara lalu menikahi puteri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang, dari Nagari Singapura, tetangga Nagari Surantaka. Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga orang anak, yaitu Raden WalangsungsangNyai Lara Santang dan Raja Sangara. Setelah ibunya meninggal,Raden Walangsungsang serta Nyai Lara Santang meninggalkan Keraton, dan tinggal di rumah Pendeta Budha, Ki Gedeng Danuwarsih.

Puteri Ki Gedeng Danuwarsih yang bernama Nyai Indang Geulis dinikahi Raden Walangsungsang, serta berguru Agama Islam kepada Syekh Datuk KahfiRaden Walangsungsang diberi nama baru, yaitu Ki Samadullah, dan kelak sepulang dari tanah suci diganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Atas anjuran gurunya, Raden Walangsungsang membuka daerah baru yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Daerah Tegal Alang-alang berkembang dan banyak didatangi orang Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, sehingga disebutlah daerah ini “Caruban”, artinya campuran. Bukan hanya etnis yang bercampur, tapi agama juga bercampur.

Atas saran gurunya, Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci bersama adiknya,Nyai Lara Santang. Di Tanah Suci inilah, adiknya dinikahi Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Nyai Lara Santang berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Dari perkawinan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah yang kelak menjadi Sunan Gunung Jati. Dilihat dari Genealogi, Syarif Hidayatullah yang nantinya menjadi salahseorang Wali Sanga, menduduki generasi ke-22 dari Nabi Muhammad.

Sesudah adiknya kawin, Ki Samadullah atau Abdullah Iman pulang ke Jawa. Setibanya di tanah air, mendirikan Masjid Jalagrahan, dan membuat rumah besar yang nantinya menjadi Keraton Pakungwati. Setelah Ki Danusela meninggal Ki Samadullah diangkat menjadu Kuwu Caruban dan digelari Pangeran Cakrabuana. Pakuwuan ini ditingkatkan menjadi Nagari Caruban larang. Pangeran Cakrabuanamendapat gelar dari ayahandanya, Prabu Siliwangi, sebagai Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.

Setelah berguru di berbagai negara, kemudian berguru tiba di Jawa. Dengan persetujuan Sunan Ampel dan para wali lainnya disarankan untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, Pangeran CakrabuanaSyarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar Agama Islam, menggatikan Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati juga mengajar di dukuh Babadan. Di sana ia menemukan jodohnya dengan Nyai Babadan Puteri Ki Gedeng Babadan. Karena isterinya meninggal, Syekh Jati kemudian menikah lagi dengan Dewi Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana, disamping menikahi Nyai Lara Bagdad, puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten, lahirlah Pangeran Saba Kingkin, kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Sementara itu Pangeran Cakrabuana memintaSyekh Jati menggantikan kedudukannya dan Syarif Hidayatullah pun kembali ke Caruban. Di Cirebon ia dinobatkan sebagai kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejak tahun 1479 itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai Pusat Kesultanan dan namanya diganti menjadi Cerbon.

Pada awal abad ke-16 Cirebon dikenal sebagai kota perdagangan terutama untuk komoditas beras dan hasil bumi yang diekspor ke Malaka. Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalahMedez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda dibawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai.

Sejak awal berdirinya, batas-batas wilayah Kesultanan Cirebon termasuk bermasalah. Hal ini disebabkan, pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Sundakalapa berhasil ditaklukan. Ketika Banten muncul sebagai Kesultanan yang berdaulat ditangan putra Susuhunan Jati, yaitu Maulana Hasanuddin, masalahnya timbul, apakah Sunda Kalapa termasuk kekuasaan Cirebon atau Banten?

Bagi Kesultanan Banten, batas wilayah ini dibuat mudah saja, dan tidak pernah menimbulkan konflik. Hanya saja pada tahun 1679 dan 1681, Cirebon pernah mengklaim daerah Sumedang, Indramayu, Galuh, dan Sukapura yang saat itu dipengaruhi Banten, sebagai wilayah pengaruhnya.

Pada masa Panembahan Ratu, perhatian lebih diarahkan kepada penguatan kehidupan keagamaan. Kedudukannya sebagai ulama, merupakan salah satu alasan Sultan Mataram agak segan untuk memasukkan Cirebon sebagai daerah taklukan. Wilayah Kesultanan Cirebon saat itu meliputi Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten dan Kotamadya Cirebon sekarang. Ketika Panembahan Ratuwafat, tahun 1649 ia digantikan oleh cucunya Panembahan Girilaya atauPanembahan Ratu II. Dari perkawinannya dengan puteri Sunan Tegalwangi,Panembahan Girilaya memiliki 3 anak, yaitu Pangeran MartawijayaPangeran Kertawijaya, dan Pangeran Wangsakerta. Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kesultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, atau dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, yang dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya dikenal denganSultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atauPanembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan. Pada tahun 1800 Residen Waterloo mencoba membuat pipa saluran air yang mengalir dari Linggajati, tetapi akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 3 perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon. Pada tahun 1877, di sana sudah berdiri pabrik es, dan pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada awal abad ke-20, Cirebon merupakan salahsatu dari lima kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya adalah beras, ikan, tembakau dan gula.

http://sundaislam.wordpress.com/2008/04/03/sejarah-cirebon/

Diskriminasi adalah sebuah kata yang mudah untuk dituliskan dalam lembaran kertas namun  sulit untuk dihapuskan dalam lembaran kehidupan masyarakat. Sebuah kata untuk membeda-bedakan, Biasanya dalam hal fisik seperti si hitam dan si putih, si cantik dan si jelek, si gemuk dan si kurus, si tinggi dan si pendek dan “si” yang lainya. Atau bisa juga dalam tingkat intelektual antara si pintar dan si bodoh, si cerdik dan si lemot.

Berbicara tentang Minder (rasa rendah diri), hampir semua orang pasti pernah merasakan minder.  Minder diakibatkan oleh rasa kurang menerima atas kekuranganya. Dengan adanya diskriminasi terhadap kekuranganya tersebut seseorang pasti akan merasa minder. Dan ini adalah minder yang biasa (normal). Apa ada minder yang luar biasa? Ada, minder ini biasanya dipersepsikan oleh orang tersebut kemudian membentuk kepribadianya yaitu Inferiority Complex. Inferiority Complex adalah sebuah rasa rendah diri yang timbul akibat konflik dalam diri antara keinginan untuk diperhatikan dan rasa takut untuk dipermalukan. Seseorang yang sudah terjangkit penyakit Inferiority Complex ini sulit sekali untuk berkembang. Karena mereka seringkali membenamkan diri mereka dalam keputusasaan malah jauh lebih mundur dari keadaan sebelumnya. Inferiority Complex ini sifatnya destruktif. Sebaliknya minder normal lebih bersifat konstruktif Karena orang yang minder normal ini lebih menjadikan kekuranganya sebagai bahan evaluasi.

Seseorang yang minder normal ketika dihadapkan dengan tantangan dia akan mengatakan, “aku harus tetap fight, walaupun aku tidak bisa”. Kalau menurut pepatah jawa “Kalah Cacak, Menang Cacak”Sedangkan orang yang bermental Inferiority Complex dia akan mengatakan, “Gak ah malu, takut salah, takut ini, takut itu dan sebaginya”. Karena yang ada dalam pikiranya hanyalah tidak bisa, tidak bisa dan tidak bisa. Pikiran mereka selalu didahului oleh sesuatu yang negatif. Ketika negatif ini menjadi mainstream maka jadilah ia orang yang negatif. Seseorang yang dalam pikiranya selalu negatif maka ia tidak akan pernah sukses.

Solusi menghilangkan inferiority complex ini, adalah anda harus berjiwa pemenang. Seorang pemenang selalu berpikir positif,  walaupun yang dihadapinya adalah sesuatu yang sangat sulit.

Wallahu a’lam bishshowab..

Kembali kepada Yang Satu

Posted: November 16, 2012 in Nasihat

Memang hidup itu unik. Ada yang mengatakan hidup ini sederhana, namun tak sesederhana mengucapkanya. Ada yang mengatakan hidup ini sulit, namun tak sesulit dengan apa yang dipikirkanya. inilah hidup yang penuh dengan misteri. Kita tak akan pernah tahu misteri itu.  So, kita serahkan saja semuanya pada yang maha hidup. Namun bukan berarti menyerah, tapi pasrah (tawakkal). Sehingga ketika kegagalan menimpa kita, tak ada rasa putus asa (pesimis).

Imam Ibn Athaillah bernasihat pada kita melalui karya monumentalnya “Al-Hikam”, “Salah satu tanda penyembah amal adalah pesimis ketika didera kegagalan”. So, bukankah kita  mahluk tuhan (Allah), yang seharusnya menyembah pada tuhan, bukan pada amal yang kita lakukan. Amal hanyalah bentuk ikhtiar kita untuk mencapai apa yang kita idamkan. Dan ikhtiar merupakan  representasi dari sifat tawakkal tersebut.

Kiai Asymawi, pengasuh pondok pesantren Az-Ziyadah pernah memberikan nasihat kepada santrinya, “jangan kau berharap pada selain allah, ketika kau berharap pada selainya. Maka, sakit hatilah yang engkau dapat (kecewa).” Melalui Nasehatnya beliau mengajak kita untuk selalu menyandarkan sesuatu hanya pada Allah. Dan menafikan yang selainya. Intinya Beliau  mengajak kita untuk bertauhid, dan menafikan musyrik.

So, jadilah penyembah sejati yang menyembah pada yang maha satu, dan yang tak ada dua. Dan sandarkanlah keinginan dan harapanmu hanya kepadanya.

Wallahu a’lam bishshowab….